Tampilkan postingan dengan label 3. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 3. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Februari 2014


Proklamasi 17 Agustus 1945
Pagi itu di jalan Pegangsaan Timur, Jakarta, sudah dipenuhi dengan orang-orang yang berharap peristiwa besar akan terjadi. Jumat, 17 Agustus 1945, halaman rumah di jalan Pegangsaan Timur no.56 menjadi tempat berkumpulnya para pemuda. Sebuah tiang menjadi tatapan dan mereka berharap mimpinya akan berkibar di ujung tiang itu.

Seseorang memasuki halaman, lalu menuju ke dalam rumah. Sejenak ia mendapatkan keheningan, waktu menunjukkan pukul delapan pagi. Lalu ia memasuki sebuah kamar dan mendapatinya sedang tertidur pulas. Pelan-pelan ia mengusap kaki seseorang yang terlihat lelah. Lelaki itu baru pulang pagi tadi dari Rengasdengklok.

Lelaki itu terbangun dan memandangnya. Senyumnya begitu lemah, terucap kata, “pating greges.” Tamu yang disapanya memberikan obat, setelah memeriksa ada panas di tubuh lelaki yang dibangunkannya.

Dialah seorang dokter bernama dr. R. Soeharto, dan lelaki yang mengatakan dirinya tak enak badan itu adalah Soekarno. Lalu atas persetujuan Soekarno, sang dokter memberinya sebuah suntikan chinine-urethan intramusculair. Lalu Soekarno melanjutkan tidurnya sejenak.

Pukul 9.30 pagi, Soekarno terbangun, tubuhnya terlihat lebih sehat. Ketika berjumpa dengan sang dokter, ia meminta agar Hatta segera dipanggil untuk datang.

Dengan berpakaian rapi, mengenakan pakaian serba putih (celana lena putih dan kemeja putih) dengan potongan yang saat itu popular disebut sebagai “kemeja pimpinan” dengan bersaku empat, Soekarno menyambut Hatta dan segera menuju halaman depan rumahnya. Sebuah teks Proklamasi dibacakan.

Inilah sebuah pernyataan kemerdekaan yang sebelumnya di dalam pidatonya Soekarno ada mengatakan “…sekarang tibalah saatnya kita benar-benar mengambil nasib bangsa dan tanah air di tangan kita sendiri. Hanya bangsa yang berani mengambil nasib di tangan sendiri, akan dapat berdiri dengan kuatnya…”

Puncak perjuangan yang pada akhirnya harus keluar dari mulut Soekarno, sebuah bukti sejarah bahwa ia memang layak mengambil posisi untuk menyatakan itu. Karena sebelum Proklamasi ini terjadi, sebelumnya juga sudah dibacakan dua proklamasi yaitu Proklamasi Gorontalo 23 Januari 1942 dan Proklamasi Cirebon 15 Agustus 1945. Namun kedua Proklamasi ini tidak diakui sebagai buah pernyataan kemerdekaan bangsa Indonesia dalam arti sebagai hari peringatan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Proklamasi Gorontalo 23 Januari 1942
Kekalahan Belanda oleh Jepang, pada Perang di Laut Jawa, membuatnya menjadi gelap mata. Gorontalo dibumi hanguskan yang dimulai pada tanggal 28 Desember 1941. Adalah seorang pemuda bernama Nani Wartabone (saat itu berumur 35 tahun) memimpin perjuangan rakyat Gorontalo dengan menangkapi para pejabat Belanda yang masih ada di Gorontalo.

Bergerak dari kampung-kampung di pinggiran kota Gorontalo seperti Suwawa, Kabila dan Tamalate, mereka bergerak mengepung kota Gorontalo. Hingga akhirnya Komandan Detasemen Veld Politie WC Romer dan beberapa kepala jawatan yang ada di Gorontalo menyerah takluk pada pukul 5 subuh.

Dengan sebuah keyakinan yang tinggi, pada pukul 10 pagi Nani Wartabone memimpin langsung upacara pengibaran bendera Merah Putih di halaman Kantor Pos Gorontalo. Dan dihadapan massa yang berkumpul, ia berkata :

“Pada hari ini, tanggal 23 Januari 1942, kita bangsa Indonesia yang berada di sini sudah merdeka bebas, lepas dan penjajahan bangsa mana pun juga. Bendera kita yaitu Merah Putih, lagu kebangsaan kita adalah Indonesia Raya. Pemerintahan Belanda sudah diambil oleh Pemerintah Nasional. Agar tetap menjaga keamanan dan ketertiban.”

Selanjutnya Nani Wartabone mengumpulkan rakyat dalam sebuah rapat akbar (layaknya peristiwa lapangan Ikada) di Tanah Lapang Besar Gorontalo untuk menegaskan kembali kemerdekaan yang sudah diproklamasikan.

Namun sayangnya ketika Jepang mendarat di Gorontalo, 26 Februari 1942, Jepang melarang pengibaran bendera Merah Putih dan memaksa rakyat Gorontalo untuk takluk tanpas syarat kepada Jepang.

Kisah Nani Wartabone terlalu panjang untuk diungkapan, walau ia di masa Jepang mengalami patah semangat ketika Jepang tak mau diajak berkompromi hingga akhirnya ia kembali ke kampung halamannya di Suwawa dan hidup sebagai petani.

Saat kekalahan Jepang oleh Sekutu, Jepang bersikap lain. Sang Saka Merah Putih diijinkan berkibar di Gorontalo dan Jepang menyerahkan pemerintahan Gorontalo kepada Nani Wartabone pada tanggal 16 Agustus 1945. Sementara rakyat Gorontalo baru mengetahui telah terjadi Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Jakarta pada tanggal 28 Agustus 1945.

Nani Wartabone memimpin Gorontalo untuk masa-masa kelam berikutnya, menghadapi pasukan Belanda yang membonceng Sekutu. Dalam sebuah perundingan di sebuah kapal perang sekutu pada tanggal 30 November 1945, Belanda menangkap dan menawannya. Ia dibawa ke Manado dan dijatuhi hukuman 15 tahun penjara atas tuduhan makar pada tanggal 23 Januari 1942 yaitu Proklamasi yang dibacakannya.

Namun di waktu yang berjalan, kekalahan sekutu mengubah nasibnya kelak. Ia kembali ke Gorontalo pada tanggal 2 Februari 1950. Nani Wartabone pada tanggal 6 April 1950 menolak RIS dan memilih bergabung dengan NKRI. Untuk beberapa waktu ia dipercaya sebagai kepala pemerintahan di Gorontalo, hingga Penjabat Kepala Daerah Sulawesi Utara, dan anggota DPRD Sulawesi Utara. Selanjutnya ia memilih untuk kembali tinggal dan bertani di desanya di Suwawa.

Tapi itu juga tak berlangsung lama. Letkol Ventje Sumual dan kawan-kawannya memproklamasikan pemerintahan PRRI/PERMESTA di Manado pada bulan Maret 1957. Ia terpanggil kembali untuk melawan. Namun perlawanan tak seimbang, karena pasukan Nani Wartabone kekurangan persenjataan, hingga mereka memilih untuk bergerilya di dalam hutan, sekedar menghindar dari sergapan tentara PRRI/PERMESTA.

Pada bulan Ramadhan 1958 datanglah bantuan pasukan tentara dari Batalyon 512 Brawijaya yang dipimpin oleh Kapten Acub Zaenal dan pasukan dari Detasemen 1 Batalyon 715 Hasanuddin yang dipimpin oleh Kapten Piola Isa. Bersama pasukan-pasukan dari pusat inilah mereka bertinjauan merebut kembali pemerintahan di Gorontalo dari tangan PRRI/PERMESTA pada pertengahan Juni 1958.

Proklamasi Cirebon 16 Agustus 1945
Kekalahan Jepang tinggal menghitung hari saja, setelah dijatuhkannya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Namun karena Jakarta tidak termasuk jalur perang Jepang dengan Sekutu, maka yang terlihat kekuatan bala tentara Jepang masih utuh.

Suasana Jakarta tetap mencekam bagi para kelompok pergerakan. Ada 4 kelompok illegal menurut Maroeto Nitimihardjo yang tampak saat itu, yaitu kelompok Soekarni, Kelompok Sjahrir, Kelompok Mahasiswa dan Kelompk Kaigun.

Kelompok-kelompok itu mendengar Sjahrir meminta Soekarno dan Hatta untuk mempercepat pernyataan Proklamasi sekembalinya Soekarno dan Hatta dari perundingan di Dalat, Saigon dengan Marsekal Terauchi, wakil kaisar Jepang. Namun Soekarno masih menunggu kepastian dari Laksmana Maeda tentang hal kekalahan Jepang tersebut

Hal ini membuat kelompok-kelompok illegal itu marah dikarenakan mereka melihat keraguan Sjahrir selama ini untuk menjalankan kesepakatan bahwa Sjahrirlah yang harus siap memimpin kemerdekaan dikarenakan ia bersih dari pengaruh Jepang. Hingga membuat kelompok-kelompok illegal ini, tidak termasuk Sjahrir bergerak cepat.

Terjadi beberapa pertemuan antara lain di Jalan Cikini Raya 71, di Lembaga Ecykman dan di Laboratorium Mikrobiologi (di samping pasar Cikini). Wikana dan dr. Darwis ditugaskan untuk mendesak langsung Soekarno-Hatta (tanpa perantara Sjahrir) untuk memproklamirkan kemerdekaan yang berujung dengan “penculikan” atau membawa Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok. Gerak cepat yang tak ragu-ragu ini akhirnya melahirkan sebuah peristiwa di pagi hari di tanggal 17 Agutus 1945 sebagai hari kemerdekaan.

Di waktu yang berjalan cepat dalam ketidak pastian peristiwa, seorang bernama dr.Soedarsono (ayah dari Juwono Soedarsono) datang bertemu Maroeto Nitimihardjo (seperti pengakuannnya di buku berjudul “Ayahku Maroeto Nitimihardjo Mengungkap Rahasia Gerakan Kemerdekaan” karangan Hadidjojo, anak Maroeto) di sebuah ‘pengungsian’ bagi istri dan anaknya yaitu di desa Perapatan, sebelah barat Palimanan, 30 km jauhnya dari Cirebon tempat dr.Soedarsono berasal. Dr.Soedarsono meminta teks Proklamasi yang dibuat Sjahrir yang katanya dititipkan pada Maroeto. Namun Maroeto menyatakan tidak ada.

Hingga dr.Soedarsono menjadi berang dan berkata, “Saya sudah bersepeda 60 kilometer hanya untuk mendengar, Sjahrir tidak berbuat apa-apa. Katakan kepada Sjahrir, saya akan membuat proklamasi di Cirebon.”

Dan akhirnya terkabarlah bahwa Proklamasi itu dibuat dan dibacakan oleh dr.Soedarsono pada pagi hari tanggal 16 Agustus 1945 di alun-alun Cirebon yang dihadiri sekitar 150 orang. Sehari sebelum Soekarno membacakan Proklamasi di penggangsaan Timur 56 Jakarta.

Namun kisah yang dipaparkan Maroeto berbeda dengan kisah yang diungkap oleh Des Alwi, anak angkat Sjahrir. Menurutnya, teks proklamasi yang dibacakan Soedarsono adalah tinjauan karya Sjahrir dan aktivis gerakan bawah tanah lainnya yang melibatkan Soekarni, Chaerul Saleh, Eri Sudewo, Johan Nur, dan Abu Bakar Lubis. Penyusunan teks dilakukan di Asrama Prapatan Nomor 10, Jakarta, pada 13 Agustus 1945.

Ada sebaris teks proklamasi yang diingat oleh Des Alwi yaitu : “Kami bangsa Indonesia dengan ini memproklamirkan kemerdekaan Indonesia karena kami tak mau dijajah dengan siapa pun juga.

sumber http://lintasberitaonline.blogspot.com/2010/08/ternyata-ada-3-proklamasi-di-indonesia.html

Minggu, 29 Desember 2013

myMetro 8 Jul 2012
 
 
PETALING JAYA: Selepas dua dekad memberi harapan kepada pasangan sukar mendapatkan anak, Pusat Perubatan Tropicana (TMC) meraikan kelahiran bayi ke 3,000 melalui hasil rawatan teknik persenyawaan luar rahim, in-vitro (IVF) di sini, semalam.
Bayi lelaki yang kini berusia empat bulan dilahirkan Ranjit Kaur selepas sembilan tahun berusaha mendapatkan cahaya mata. Lebih 100 bayi yang dilahirkan menerusi kaedah sama turut memeriahkan majlis bertema ‘Celebration of Life’.

Ketua Pegawai Eksekutif TMC, Erica Lam berkata, dengan keupayaan dimiliki, TMC bercadang menyumbang untuk pelancongan perubatan dengan menarik pelancong dari Indonesia, Singapura, Vietnam, Kemboja, China, Bangladesh dan United Kingdom mendapatkan rawatan kesuburan.
“Kejayaan berterusan ini adalah cermin komitmen tidak berbelah bahagi kami bagi memenuhi impian pasangan yang ingin mendapatkan anak melalui rawatan kesuburan yang berpatutan.

“Kami komited menyediakan perkhidmatan penjagaan kesihatan kesuburan dan reproduksi yang selamat dan berkesan,” katanya.

Menurutnya, setakat ini lebih 30 pasangan suami isteri dari Indonesia masih dalam program dan proses menjalani rawatan IVF di TMC.
innity_client = "72"; "591"; innity_channel = ""; innity_keyword = ""; src="http://innity.com/synd.js" type src="http://avn.innity.com/zone/591/1341712705866" type

Pakar Perbidanan, Sakit Puan dan Kesuburan, Dr Surinder Singh, yang juga Ketua Pusat Kesuburan TMC berkata, ada banyak punca ketidaksuburan iaitu 40 peratus berpunca daripada wanita, 40 peratus lagi lelaki manakala 20 peratus ialah kombinasi faktor berpunca daripada pasangan itu.

“Kebanyakan pasangan yang mendapatkan rawatan IVF ialah mereka yang berusia 35 tahun ke atas. Namun, bukan semua pasangan yang menghadapi masalah menjalani rawatan IVF. Kami melakukan rawatan tertentu bagi mengatasi masalah dialami, misalnya ada wanita hanya memerlukan pembedahan membuang ketumbuhan,” katanya.
GA_googleFillSlot("HM_Island_Ad_400x200");
Suri rumah, Yong Siok Fong, 38, menjalani rawatan IVF selepas dua tahun berusaha mendapatkan anak. Dia dan suami kini memiliki empat anak menerusi kaedah itu iaitu anak sulung, Ivan Choo, 6 dan kembar tiga, Choo Teng Shen, Choo Teng Song dan Choo Qin Lin, 19 bulan.

“Apa yang saya harapkan ialah semua anak sihat dan membesar dengan baik. Untuk membesarkan tiga bayi kembar bukan perkara mudah. Saya memerlukan dua pembantu bagi melancarkan urusan harian dan menjaga anak,” katanya.

Selasa, 17 Desember 2013





Secara kasar, menikah berarti "bersatu-nya" dua jenis mahluk hidup atau mati, bisa manusia dengan manusia, manusia dengan tanaman, manusia dengan robot sex, manusia dengan unta, dan lain-lain. Tujuan dari menikah sendiri adalah untuk meresmikan sebuah hubungan agar sah menurut norma agama, norma hukum, dan norma sosial.


Lantas hal – hal apa saja yang membuat kamu harus menikah? Berikut beberapa alasannya:


1. Karena Cinta

Tidak bisa dipungkiri, cinta merupakan alasan utama yang paling sering dilakukan dua jenis makhluk untuk menikah. Apabila kamu sudah menemukan pasangan yang cocok, saling mencintai, keuangan sudah mapan, yakin bahwa kamu akan lebih banyak bahagianya dibanding sedihnya, ingin punya keturunan bersama, dan ingin menghabiskan sisa hidup kamu sama orang ini, itu berarti kamu beneran cinta sama pasangan kamu dan itu tentunya merupakan sebuah alasan yang sungguh kuat. Selamat lho, gak semua orang bisa dapet pengalaman itu.



2. Karena Dipaksa

Emang masih jaman menikah karena dipaksa? Eisss, jangan salah! Sampai detik ini masih banyak makhluk – makhluk yang dipaksa untuk menikah. Misalkan:




Dipaksa Orang Tua a.k.a Dijodohin
Biasanya terjadi kalo orang tua kamu orangnya dominan dan ingin yang terbaik untuk kamu (atau terbaik untuk image mereka, gak tau juga sih). Kalau dipaksa menikahnya dengan orang yang ganteng / cantik, badannya bagus, dan kaya-raya sih gak masalah ya, malah bisa jadi berkah. Kalau dipaksa menikahnya sama hal terburuk yang bisa kamu bayangkan, itu sih derita kamu.


Dipaksa Majikan
Biasanya sering dirasakan oleh para makhluk peliharaan. Para majikan biasanya melakukan ini agar keturunan makhluk peliharaannya tetap bagus, trus turunannya bisa dijual mahal. Gitu deh.

3. Karena Telat "Cabut"

Ini adalah salah satu alasan utama kenapa orang "harus menikah". Telatnya bisa dua macem sih, sengaja atau gak sengaja. Yang sengaja telat cabut biasanya dilakukan oleh orang-orang yang desperate ingin dinikahi, seperti misalnya cowok-cowok yang merasa ceweknya gak mau nikah sama dia atau mungkin cewek matre.


Sementara yang telat cabut, biasanya ya karena keenakan aja sih. Atau mungkin mau sok-sok kuat bisa nahan gitu, tapi gak tahan. Jadi deh.


Nah, itulah beberapa alasan kenapa orang harus menikah. Kalo alasan kamu apa nih?






Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!